Polisi Harus Belajar Akui Kesalahan

SOLO, suaramerdeka.com Pengamat hukum UNS Prof Dr Jamal Wiwoho SH Mhum menyarankan polisi perlu belajar mengakui kesalahan ketika melakukan tindakan yang tdak benar, atau bahkan menyakiti rakyat. Bukan seperti selama ini, melempar tanggung jawab ke pihak lain atau mencari alasan pembenar."Lihat saja dalam kasus terakhir kerusuhan di Bima, yang terjadi adalah menyalahkan provokator dari Jakarta. Setelah itu kesalahan ditimpakan hanya pada tiga polisi di lapangan yang pelurunya mengenai menewaskan masyarakat," kata dia.
Kepada wartawan, Prof Jamal mengatakan selama ini hampir tidak ada kejadian yang secara langsung diakui sebagai kesalahan polisi. Bahkan hingga menewaskan atau melukai warga berapapun jumlahnya.
"Aparat kepolisian itu semboyannya maju terus pantang mundur, salah tetap merasa betul. Itu yang menjadikan citra polisi jelek. Rakyat saat ini menjadikan keberadaan polisi sebagai musuh, bukan pelindung dan pengayom rakyat, seperti semboyan selama ini."
Sepertinya sangat berat mengakui kesalahan. Padahal dengan cara elegan seperti itu, sebetulnya akan menjadikan persoalan mudah dicarikan jalan keluar. Bukan dengan mengalihkan kepada persoalan yang letaknya sangat jauh. "Kalau kemudian provokator dari Jakarta yang disalahkan, maka artinya polisi menembak dan menewaskan rakyat di Bima ataupun juga di Mesuji, bukan tindakan salah. Itu alasan yang akan sangat jauh diusut secara obyektif dan tuntas."
Padahal fakta di lapangan rakyat hanya melihat polisi memberondong rakyat dengan tembakan yang mematikan dua orang dan melukai sekian banyak warga. Itu saja. Dan yang menembakkan senjata tidak hanya tiga oknum yang dipastikan akan diadili.
"Memangnya saat pembubaran demo rakyat Bima itu, hanya tiga polisi itu yang menembak? Yang lain tidak menembak? Siapa yang bertanggung jawab menempatkan polisi di lokasi itu? Apakah dia tidak ikut salah?"
Jika masih seperti ini model penanganan kasus yang melibatkan polisi, maka citra polisi yang makin buruk sejak dipisahkan dati TNI, akan bertambah buruk. Polisi akan semakin dicitrakan musuh rakyat, centeng yang membela siapa yang mau membayar.
"Ini yang harus diubah. Salah satunya, belajar mengakui kesalahan. Tentu dengan sendirinya menindak yang memang salah. Dan hemat saya, dua tingkat di atas polisi di lapangan harus ikut bertanggung jawab."
Dalam kasus Bima, kata Prof Jamal, Kapolres atau paling tinggi Kapolda NTB bisa dinyatakan bersalah dan bertanggung jawab atas tewasnya rakyat Bima. Itu sudah cukup dan rakyat yakin bisa menerima pengakuan salah itu secara elegan.
"Biasakan sikap seperti ini, dan tentu dibarengi dengan upaya memperbaiki model pendekatan polisi dalam menangani persoalan yang bersinggungan dengan rakyat. Jangan sampai semakin meruncing anggapan polisi hanya membela pihak yang berani membayarnya saja. Hapus anggapan itu dengan sikap yang makin dekat dan keberpihakan dengan rakyat."
( Joko Dwi Hastanto / CN32 / JBSM )

Sumber > Polisi Harus Belajar Akui Kesalahan

Similar Threads ::