Komnas HAM: Polisi Harus 'Angkat Kaki' dari Areal Perkebunan Warga

JAKARTA - Komite Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menegaskan, polisi harus angkat kaki dari tanah-tanah area perkebunan warga.

Hal tersebut dikarenakan tindakan yang sangat tidak manusiawi dalam proses pengamanan dan penertiban dalam konflik agraria kerap dilakukan aparat kepolisian.

Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengatakan, Komnas HAM mendesak Polri segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh terkait terjadinya peristiwa bentrok warga dengan aparat kepolisian di Bima, Nusa Tenggara barat (NTB).

Selain itu pihaknya juga mendesak Polri menindak tegas terhadap jajaran anggota kepolisian yang terbukti melakukan kesalahan.

"Aparat kepolisian yang menertibkan pemblokiran pelabuhan oleh warga sangat brutal dan menyerang warga secara membabi buta, sambil mengarahkan tembakan langsung ke arah kerumunan warga yang melakukan aksi demo. Tentu saja ada korban jiwa akibat perbuatan itu," kata Ifdhal dalam jumpa pers di kantornya.

Sementara, Anggota Komnas HAM sekaligus Ketua Tim investigasi kekerasan Bima, Ridha Saleh mengatakan, sudah selayaknya polisi ditarik dari area perkebunan. Pasalnya, kata Ridha, aparatjuga terlibat pada serangkaian konflik agraria baik di Bima dan Mesuji pada kasus sebelumnya.

"Presiden harusnya meminta Kapolri menarik semua anggota Brimob dari area perkebunan. Dan mengevaluasi kinerja polri dalam penyelesaian konflik di daerah perkebunan. Jika terbukti bersalah maka oknum polisi tersebut harus ditindak tegas," tegasnya.

Seperti diberitakan, bentrokan antara warga dengan polisi terjadi di Bima pada Sabtu 24 Desember lalu. Bentrok terjadi karena warga menolak meninggalkan Pelabuhan Penyeberangan ASDP Sape yang sudah diduduki sejak Senin 19 Desember lalu.

Polisi mengklaim penanganan para pengunjuk rasa sudah sesuai dengan prosedur tetap (protap), namun penanganan polisi menyebabkan setidaknya dua orang tewas. Menurut versi polisi dua orang tewas dalam insiden ini, sedangkan menurut versi Komnas HAM, setidaknya sudah tiga nyawa melayang dalam bentrokan tersebut.

Ketiga korban yang berhasil diidentifikasi diketahui bernama Saiful (17), Arief Rahman (19) dan Arifusin Arrahman yang belum dipastikan identitasnya.
(put)

Similar Threads ::