Pemerintah Provinsi Jawa Barat tampaknya perlu belajar dari upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang hanya mengalokasikan anggaran Rp 4 juta untuk pembuatan 3.000 kartu ucapan Lebaran dari Gubernur Syahrul Yasin Limpo. Jumlah ini jauh lebih murah dari pembuatan kartu Lebaran Gubernur Jabar Ahmad Heriawan yang menelan biaya hingga Rp 1,5 miliar.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Pemprov Sulsel Agus Sumantri, Selasa (31/08/2010), mengatakan, biaya pembuatan kartu untuk para pejabat dan tokoh masyarakat di 24 kabupaten/kota di Sulsel itu diambil dari dana APBD. "Kami perkirakan biaya maksimal Rp 5 juta dengan tambahan uang bensin untuk kurir pengantar kartu Lebaran," tuturnya.

Desain kartu juga dibuat sederhana dengan hanya menampilkan gambar Syahrul berbusana muslim di selembar kertas foto ukuran 8R. Saat ini, Biro Humas Pemprov Sulsel tengah membuat konsep kartu. Rencananya, kartu Lebaran ini baru akan di sebarluaskan pada Kamis (2/9/2010) mendatang.



Berita terkait



Menanggapi pemberitaan sejumlah media massa mengenai pengiriman kartu Lebaran dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mencapai Rp 1 miliar, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menampiknya sebagai upaya pemborosan anggaran. Hal itu dilakukannya untuk menyapa warga Jabar dalam kesempatan yang berbahagia tersebut.

Kartu Lebaran merupakan sarana komunikasi yang penting sehingga wajar jika biayanya mencapai Rp 1 miliar. "Ada ribuan titik (di Jabar) yang dulu saya kunjungi sebelum jadi gubernur. Sekarang hal itu ingin saya ulangi lagi, tetapi belum semuanya bisa terjangkau. Pengiriman kartu ini dimaksudkan untuk menyapa mereka di berbagai daerah," katanya saat ditemui di Kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah Provinsi Jawa Barat, Bandung, Kamis (26/8).

Dalam siaran persnya, Heryawan juga menyebutkan, pengiriman kartu itu murni didasarkan pada niat silaturahim. Dari jumlah penduduk Jabar yang 43 juta orang dan tersebar luas di 26 kabupaten/kota, 450.000 kartu yang dikirimkan sebenarnya relatif kecil karena hanya menjangkau sekitar 1 persen penduduk.

"Nilai rasa, perhatian, silaturahim, keakraban, dan kebahagiaan tidak bisa dikalkulasi dengan rupiah. Pilihan mengirim kartu Lebaran bukan hal salah. Mengirim pesan singkat atau SMS juga saya tempuh. Namun, pesan visualisasi dan nilai kedekatan pada kartu Lebaran tidak terdapat pada SMS," ujarnya.

Terpisah

Mengenai terpisahnya pencetakan kartu Lebaran bergambar dirinya dan Wakil Gubernur Dede Yusuf, Heryawan juga menganggapnya sebagai hal biasa. Hal serupa dilakukan presiden dan wakil presiden. "Kenapa hal itu dipersoalkan," katanya.

Ditemui sehari sebelumnya, Dede mengaku tidak berkeberatan jika kartu Lebaran bergambar dirinya dan gubernur dicetak terpisah. Namun, ia sempat mengusulkan gambar mereka sebagai pasangan pimpinan Jabar itu dicetak jadi satu supaya efisien. "Lagi pula ini kan atas nama Pemprov Jabar sehingga lebih baik jika dicetak berdampingan," katanya.

Untuk menghemat biaya pengiriman prangko, Dede mengusulkan kartu Lebaran bergambar dirinya akan dikirimkan sendiri melalui jaringan kwartir cabang pramuka di daerah.

Terkait desain kartu Lebaran tahun ini, Dede mengaku cukup puas. Alasannya, selain berisikan ucapan Lebaran, kartu itu juga bisa difungsikan sebagai kalender duduk. "Tidak seperti kartu Lebaran biasa yang langsung dibuang setelah dibaca, kartu Lebaran dari

Pemprov ini bisa berumur panjang karena ada kalendernya," ujarnya.

Pemerhati kebijakan publik Dede Mariana menyebutkan, pengiriman kartu ini bagaimanapun adalah bentuk inefisiensi. Ia menyayangkan mengapa hal semacam ini bisa lolos dari pengamatan DPRD. "Ini jadi pelajaran buat penganggaran tahun berikutnya," katanya

Sumber : kompas

Similar Threads ::