Ada apa gerangan? Pada hari itu Kadal dan Buaya tergopoh-gopoh mengunjungi saudara tuanya, Komodo.

Tentu saja, Komodo menyambut gembira kedatangan adik-adiknya dari jauh. Langsung berpelukan untuk melepas rindu. “Bang Komodo, kami sengaja datang dari jauh untuk memberikan dukungan.” Buaya mengutarakan maksud kedatangannya.

“Dukungan apa nih?” Komodo sedikit bingung. “Alaaa Abang pura-pura tidak tahu saja. Mendukung Abang supaya terpilih jadi keajaiban dunialah!” Kadal menimpali. “Oh itu. Bukan akulah. Itu kan pulaunya. Jangan salah.” Komodo menjelaskan.

“Tapi bagaimanapun Abang termasuk beruntung. Bisa dilestarikan dan menjadi perhatian dunia. Coba kami. Selalu menjadi bulan-bulanan manusia. Nama kami seringkali dicemarkan. Abang tahu kan, ada istilah dikadalin? Masa namaku dibawa-bawa?!” Kadal mulai curhat.

“Betul itu Bang. Apalagi aku. Kalau ada manusia yang suka mempermainkan wanita. Dijuluki buaya darat. Padahal Abang kan tahu, aku tidak suka main wanita.” Buaya tak mau kalah ikut curhat.

“Kalian ini. Bukankah Abang juga dibilang sebagai penyebab macet? Padahal Abang tidak pernah ke mana-mana!” Komodo mengingatkan. “Wah, Abang masih ingat saja. Padahal orang-orang sudah lupa tuh.” Sahut Buaya.

“Bagaimanapun Abang termasuk beruntung. Mendapatkan perhatian lebih dan dijaga dengan baik. Terkenal sampai ke seluruh dunia. Lah kami? Dapat kesan jeleknya doang.” Kadal berkeluh.

“Begitu ya? Adik-adikku. Kelihatannya enak dan beruntung. Tapi kebenarannya tidak seperti itu. Sebenarnya lebih enak dan nyaman hidup alami saja. Kami tidak butuh diperhatikan berlebihan dan diekspose. Bukankah semua itu demi keuntungan manusia juga? Bagaimanapun kita tetap binatang yang hanya akan dimanfaatkan. Tidak perlu iri atau memperbandingkan. Kita masing-masing memiliki kesenangan dan kesusahannya sendiri.” Tutur Komodo sambil menarik nafas.

Kadal dan buaya terdiam. Komodo pun diam menikmati keheningan. Memandang jauh ke lautan luas.


Mohon maaf jika ada persamaan pemain itu hanyalah kebetulan belaka...

Similar Threads ::